LAMPUNGNEWS.CO.ID- Muklis yang saat ini sudah berusia 42 tahun, mengejutkan banyak warga di Kabupaten Pesawaran. Sebab, Kamis, 5 Januari 2016 siang, dirinya divonis penjara 14 tahun dan denda Rp.2 miliar.

Kasus Muklis, banyak disebut erat kaitannya dengan Rama Diyansah. Wakil Ketua DPRD Pesawaran dari Partai Gerindra yang ditangkap sedang pesta narkoba jenis sabu-sabu di rumahnya sendiri.

Meski belum bisa dibuktikan, banyak sumber menjelaskan, Muklis adalah salah satu pemasok narkoba untuk jajaran pejabat di Kabupaten Pesawaran. Salah satunya, Rama Diansyah dan anggota DPRD asal PAN, Yulianto yang ikut ditangkap pada malam kejadian. Baca: Dewan dari Partai Gerindra Ditangkap Pesta Narkoba

Muklis adalah pengedar Narkoba asal Desa Sukajaya, Kecamatan Teluk Pandan, Pesawaran. Dia divonis 14 tahun penjara dengan denda Rp2 Miliar oleh pengadilan negeri Kelas I A Tanjungkarang. Muklis sendiri ditangkap Tim Ditresnarkoba Polda Lampung dengan barang bukti 365 gram narkoba jenis sabu-sabu.

“Terdakwa dinyatakan bersalah dan terbukti atas kepemilinan sabu-sabu sebanyak 365,0268 gram, dengan ini dijatuhi hukuman selama 14 tahun penjara dengan denda Rp 2 miliar jika tidak dibayar diganti dengan tiga bulan hukuman penjara,” kata Ketua Majelis Hakim yang dipimpin Salman Al Farasi.

Putusan majelis hakim lebih ringan satu tahun dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut terdakwa selama 15 tahun penjara denda Rp2 miliar sub 6 bulan penjara. Dalam dakwaannya, JPU menjelaskan, ketika terdakwa sedang berada di rumahnya, dirinya dihubungi oleh seseorang yang dikenal dengan sebutan Ayah Agam untuk menemui seseorang dipinggir Jalan Kota Karang, Teluk Betung, Bandarlampung, dengan tujuan untuk mengambil sabu-sabu.

Lalu saat terdakwa menunggu dijalan, dan datang laki-laki yang menyerahkan bungkusan berisikan empat paket sedang sabu-sabu. Selanjutnya bungkusan itu dibawa pulang ke rumahnya untuk disimpan dan menunggu perintah dari Ayah Agam yang saat ini masi masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).

Setelah sampai di rumah, terdakwa membagi satu paket sedang berisikan jenis sabu-sabu untuk dipecah-pecah menjadi tiga paket, usai memecah sabu-sabu, terdakwa langsung menyerahkannya kepada Wawan (DPO). Setelah terdakwa melakukan transaksi dengan Wawan, terdakwa pulang sekira Pukul 18.00 wib, untuk menyimpan sisa satu paket kecil sabu serta timbangan digital dalam lemari kamar tidurnya.

Namun, sekira Pukul 21.00 ketika terdakwa sedang duduk di rumahnya di Jalan Way Ratai Lempasing, Pesawaran, datang petugas. Dari Dit Narkoba Polda Lampung dan langsung melakukan penangkapan terhadap terdakwa. “Dari penggeledahan itu, ditemukan barang bukti berupa empat paket sedang berisikan narkotika jenis sabu dan satu unit timbangan yang disimpan dalam lemari,” kata JPU

Berdasarkan hasil pemeriksaan UPT Laboratorium Narkoba pelaksana Harian Badan Narkotika Nasiaonal (BNN) No.155 G/VII/2016/UPT LAP UJI Narkoba diperoleh kesimpulan bahwa barang bukti yang diamankan dilakukan pemeriksaan secara laboratories disimpulkan kristal putih adalah benar mengandung metamfetamina dan terdaftar dalam golongan I Nomor urut 61 Lampiran UU No.35/2009 tentang Narkotika.

Rama Disebut Muklis?

Menariknya, pasca ditangkapnya Muklis tak berselang lama, jajaran Ditresnarkoba Polda Lampung, menggrebek rumah Rama Diansyah. Bersama dia, ada rekannya, angota DPRD Pesawaran Yudianto yang berasal dari PAN. Selain kedua anggota DPRD dan yang diduga sebagai kurir, lima orang yang ikut ditangkap sudah dipulangkan ke keluarganya.

Direktur Reserse Narkoba Polda Lampung, Kombes Pol. Abrar Tuntalanai mengatakan, karena tidak cukup bukti lima dari delapan orang yang diamankan tersebut telah dibebaskan. “Untuk tiga tersangka yakni, dua anggota dewan dan satu kurir narkoba masih ditahan di markas Direktorat Reserse Narkoba Polda Lampung,” kata Abrar Tuntalanai, Jumat 6 Januari 2016.

Menurut Abrar Tuntalanai, kasusnya masih tahap penyelidikan jadi untuk upaya hukum terhadap dua oknum pejabat publik tersebut masih didalami. “Kita masih terus dalami kasus ini, mengumpulkan keterangan untuk pemberkasan dan gelar perkara. Untuk lima orang yang diamankan karena saat penyergapan mereka ada di lokasi, dibebaskan karena tidak cukup bukti dan hasil tes urinenya negatif,” katan Abrar.

Dalam penggerebekan tersebut, selain mengamankan 8 orang yang sedang berada di rumah Rama, ditemukan satu alat hisap sabu-sabu (Bong), dan kliep sabu-sabu. Sayangnya, Abrar menolak menjelaskan apakah ditangkapnya Rama dan Yulianto terkait dari pengakuan Muklis atau justru Rama merupakan nama “Ayah Agam” yang disebut-sebut JPU Muklis.

Warga di lingkungan rumah Rama Diansyah mengatakan, kejadian penggrebekan sekitar habis magrib, sekira jam tujuh malam. Polisi berpakaian preman mendatangai rumah itu, dan langsung membawa para tersangka, ada delapan orang yang ada di rumah tersebut.

Menurut, Jufri (36), ada sekitar lima mobil polisi yang menggrebek rumah Rama. “Kalau Muklis saya tidak kenal,” kata dia, kemudian menolak menjawab pertanyaan wartawan lampungnews.co.id.

“Maaf, gak tahu saya kalau urusan itu,” ujarnya seketika langsung menghindar ketika ditanya apakah Rama beli narkobanya lewat Muklis. (asfi)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY