Prostitusi Online Mahasiswi Mandek di Polda Lampung

LAMPUNGNEWS.CO.ID– Kepolisian Daerah (Polda) Lampung berhasil mengungkap praktik tindak pidana trafficking atau perdagangan manusia dalam lingkup prostitusi online di Kota Bandarlampung. Seorang mucikari bernama Maya Prinita Wulandari (24), diringkus sejak Sabtu (24/9/2016). Namun demikian, kasusnya mandek dan terkesan disembunyikan aparat penegak hukum itu.

Diketahui, mucikari Maya Prinita ini memiliki 19 anak asuh wanita yang dijadikan Pekerja Seks Komersial (PSK). Bahkan diantaranya ada yang masih berstatus mahasiswi. Mucikari ini merekrut anak asuh atau wanita yang dijadikan PSK yakni sebagian melalui media sosial dan melalui pertemanan. a�?Kami tetapkan tersangka karena mampu menyediakan, menawarkan bahkan mengirimkan perempuan, untuk menemani kencan atau berhubungan intim. Diantaranya bahkan ada yang berstatus mahasiswi,a�? kata Kasubdit IV Remaja Anak dan Wanita (Renakta) Ditreskrimum Polda Lampung AKBP Ferdyan Indra Fahmi, saat ekspos di Graha Jurnalis Polda Lampung, Senin (26/9/2016).

Ferdyan mengatakan, pengungkapan kasus ini berawal dari informasi terkait adanya aktifitas prostitusi melalui online di Bandarlampung. a�?Dalam hal ini kami mengungkap dugaan tindak pidana trafiking, terkait prostitusi,a�? kata Ferdyan.

Menurut Ferdyan, pihaknya telah melakukan penelusuran dan penyelidikan dan memeriksa beberapa wanita yang diduga sebagai korban dari prostitusi ini. Kemudian menetapkan satu tersangka yang berperan sebagai mucikari.

Maya Prinita Wulandari sendiri ditangkap usai mengantar anak asuhnya kepada pelanggan diseputaran Jalan Untun Suropati, Labuha Ratu, Bandarlampung, Sabtu (24/9/2016). a�?Sementara ini kami menetapkan satu tersangka inisal MP (24). Hasil lidik, kami temukan alat bukti, bahwa tersangka melakukan aktifitas prostitusi. Kami tangkap di jalan, setelah mengirim korban kepada pelanggan,a�? kata dia.

Berdasar pada hasil pemeriksaan, lanjut Ferdyan, tersangka memiliki 19 anak asuh wanita yang dijadikan sebagai pekerja seks komersial (PSK). Bahkan dari 19 wanita itu ada yang berstatus mahasiswi. a�?Hasil pemeriksaan dan penggeledahan ponsel, ada 19 wanita yang menjadi korban, semuanya di atas 18 tahun, ada yang berprofesi sebagai wiraswasta, karyawati, tidak bekerja dan ada yang mahasiswi juga,a�? kata Ferdyan.

Tersangka, kata Ferdyan memasang tarif Rp1,5 jutaa��Rp2 juta untuk sekali memakai anak asuhnya. Dari jumlah itu sang mucikari mendapat keuntungan Rp500 ribua��Rp1 juta.

a�?Dibuktikan dari beberapa saksi yang diminta keterangan. Tarif Rp1,5 juta–Rp2 juta per transkasi atau sekali main dengan anak asuhnya. Tersangka dapat Rp500 ribu–Rp1 juta dari kliennya,a�? kata Ferdyan.

Mucikari ini, lanjut Ferdyan, telah beroperasi selama 4a��6 bulan terakhir. Dimana rata-rata pelanggannya adalah warga Bandar Lampung yang merupakan pengusaha. a�?Ini short time, bayarannya Rp1,5 juta-Rp2 juta. Klien selama ini dari wilayah Bandar Lampung,a�? kata dia.

Sang mucikari, kata Ferdyan, merekrut anak asuhnya melalui media sosial dan melalui pertemanan antarwanita yang sudah menjadi anak asuhnya. a�?Merekrut korbannya ada yang dikenal dan dari mulut ke mulut, dan ada yang melalui media sosial,a�? ujarnya.

Sedangkan untuk memasarkan anak asuhnya, si mucikari melalui media online dan manual melalui orang ke orang. Setelah cocok, kemudian si mucikari mengantarkan wanita pesanan kepada pria hidung belang yang telah menunggu di tempat yang dijanjikan.

a�?Tapi lebih banyak dari online. Modusnya dengan berkomunikasi, ada pihak yang berminat, tersangka menawarkan tipe dan model profil yang diharapkan pelanggan. Setelah cocok mucikari ngantarkan. Rata-rata main di hotel,a�? kata dia.

Dalam sehari, lanjut Ferdyan mucikari ini dapat menjual pelayanan anak asuhnya 3-4 orang, kepada para pelanggan. a�?Rata-rata sehari dia bisa mengirim 3-4 orang, meski tidak tiap hari tapi sering,a�? ujaar Ferdyan.

Barang bukti yang disita dari mucikari yakkni uang Rp3 juta, beberapa slip transfer bank, 2 unit ponsel, dan 2 alat kontrasepsi. a�?Sementara ini kami menetapkan 1 orang tersangka, dugaan banyak, tapi kita tidak bisa memprediksi, masih di kembangkan,a�? kata Ferdyan.

Tersangka dijerat Pasal 2 Undang-Undang No. 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dalam lingkup prostitusi, diancam hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Sampai sekarang, proses hukum kasus prostitusi online dengan tersangka mucikari Maya itu mandek dan jalan ditempat.

Direktur Kriminal Umum Polda Membantah

Sejak penangkapan tersangka dugaan mucikari, Maya Prinita Wulandari pada Sabtu (24/9/2016) lalu, hingga Rabu (16/11/2016), belum jelas proses hukumnya. Dan kasus tersebutpun belum juga P19. a�?Kasus dengan tersangka Maya Prinita Wulandari itu masih dalam proses dan belum P19,a�? kata Direktur Kriminal Umum Polda Lampung, Kombes Pol. Zarialdi saat di temui di depan ruang kerjanya, pada Rabu (16/11) petang.

Menurutnya dalam pengungkapan kasus trafficking pihaknya telah melakukan upaya maksimal. Itu telah kita buktikan dengan pengungkapan kasus tersebut yang melibatkan pelantun lagu klepek klepek, Hesty, dan yang terbaru petugas berhasil menangkap seorang mucikari bernama, Maya Prinita Wulandari.

Disinggung soal kasus tindak pidana trafficking dalam lingkup prostitusi online di kalangan pelajar dan mahasiswi, yang rawan menjadi korban mucikari, Zarialdi menyatakan hal itu menjadi ranah bagian Bimbingan masyarakat (Bimas) Polda Lampung. Pasalnya banyak mucikari bermodus pertemanan kemudian membujuk dan merayu korban, agar dengan cara mudah bisa mendapatkan uang banyak, dan bisa bergaya hidup mewah.

a�?Mengenai antisipasi memberikan pengarahan terhadap mahasiswa dan pelajar ke Universitas dan sekolah itu merupakan tugas Binmas karena mereka yang membidanginya,a�? katanya.

Informasi lainya yang belum terungkap, sebelum menangkap Maya, Tim Polda Lampung juga menangkap wanita malam berinisial BB, dengan kasus sejenis, terkait prostitusi online, tapi hingga kini tidak jelas prosesnya. BB kini sudah berlenggang seperti biasa,

Lalu, Polda Lampung juga disebutkan mengamankan, ED, papi Dwipa Karaoke, dan dua pemandu lagu, karena sangkaan kasus prostitusi online. Namun, dua pemandu lagu sudah dipulangkan dalam 1×24, jam. ED, sendiri yang akrab disapa sang papi hingga kinia masih mendekam di sel Polda Lampung. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *