lampungnews.co.id, Bermula dari hobi, Adi Rudiyanto kini malah menikmati hasil dari memelihara ikan hias. Tak kurang dari Rp 100 – 150 ribu per hari dikantonginya dengan menjual ikan hias berukuran kecil kepada konsumennya.

Bermodal Rp 400 ribu hasil dari menjual ayam bangkok dan membongkar tabungannya, warga jalan Pramuka, Desa Sukaraja, Kecamatan Gedongtataan itu memulai peruntungannya dengan mengembangbiakan ikan jenis Guppy dan Cupang serta membeli empat jenis ikan hias untuk dijual.

“Ikan pertama yang dijual jenis Guppy, Pelaty, Molly, dan Cupang, itu saya jual dikisaran Rp1000 hingga Rp 5 ribu per ekornya,” kata putra pasangan Suyono dan Leginah itu, Selasa, 20 September 2016.

Saat ini, pria lulusan SMA N 1 Gedongtataan itu telah sekitar 2 tahun menekuni bisnis jual beli ikan hias. Ratusan ikan hias berbagai jenis dia beli dari pembibit ikan di Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan untuk dijual lagi di rumahnya.

”Saat ini saya menjual sekitar 20 jenis ikan hias berukuran kecil, dengan harga termahal Rp 25 ribu per ekornya,” kata dia.

Ikan paling mahal yang dijual bungsu dari 6 bersaudara itu yakni jenis blue elektrik sekitar Rp 25 ribu dan termurah Rp 1000 untuk jenis Pelaty, Guppy dan Molly serta banyak lagi.

“Konsumennya kebanyakan anak kecil, jadi jual yang murah tapi bagus aja, yang penting cepet laku,” kata pria yang belum lama membeli motor hasil dari berjualan ikan hias.

Selain ikan, pria yang mengaku belum memiliki pacar itu pun menjual hewan lainnya seperti hamster, kelinci lokal dan kelinci anggora. Untuk kelinci anggora usia 1 bulan dijual di kisaran Rp 45 ribu – Rp 50 ribu per ekor dan kelinci lokal usia 1 bulan dijual sekitar Rp 30 ribu – Rp 35 ribu per ekor.

Keterbatasan lahan

Sebenarnya, Adi bisa saja mendapatkan untung lebih besar lagi andai memiliki lahan guna pengembangbiakan ikan hias tersebut. Sebab, baik pakan maupun cuaca di Kabupaten Pesawaran sangat mendukung guna pemeliharaan ikan hias itu.

“Saat ini saya hanya bisa mengembangbiakan ikan jenis Cupang dan Guppy, karena ga ada lahan lagi, lahan saya cuma sekitar 8 x 6 meter, ” kata dia.

Menurutnya, semua orang bisa mengembangbiakan berbagai jenis ikan hias, karena tidak memerlukan keahlian khusus dalam prosesnya. Untuk Cupang, hanya menempatkan indukan, lalu mengawinkanya, kemudian jika sudah bertelur dan menetas, induk betina dipisahkan dari anakan dan induk jantan.

Sedangkan untuk Guppy, lebih mudah lagi, hanya mengawinkan indukan dan setelah menetas kedua induk dipisahkan dari anakannya.

Untuk pakan, kata pria jangkung setinggi 178 centimeter itu, dapat menggunakan Artemia (telur udang) yang bisa dibeli di toko dan penjual makanan ikan serta Monia atau kutu air, ini bisa didapatkan di areal pesawahan.

“Dan setelah sekitar 2 bulan, tetasan ikan itu memiliki nilai jual sekitar Rp 3 ribu – Rp 5 ribu per ekornya,” kata dia.

Dikatakannya, bisnis yang digelutinya memiliki potensi yang cukup bagus dan memiliki kemudahan dalam prosesnya serta memiliki nilai ekonomis yang tinggi

“Semua orang bisa, dan ini (bisnis ikan hias) bagus untuk dikembangkan, karena harga ikan hias selalu stabil dan merata, alangkah baiknya jika Pesawaran nantinya menjadi sentral produksi ikan hias,” kata dia lagi. (*)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY